Tuesday, August 10, 2010

si dia :)

At this moment, I am very much in love.
I’ve always been very much in love and I hope I’ll always be in love with the same man. I have come so far yet I have a long way to go ; a whole new journey which I am just about to embark.
Kawan-kawan rapat saksi kebanyakan drama hidup saya. Macam mana tunggang terbaliknya saya in and out of love. Berapa kali saya sakit, berada dalam saya jatuh, berapa silap saya buat. Sampai satu masa, saya buat keputusan: “That’s it. Aku tak boleh hidup macam ni. Semua tak menjadi dan aku paksa dia menjadi ; aku tak boleh hidup macam ni. Aku ada Tuhan.
Lalu tiap malam, tak kira saya sedang rapat dengan siapa, doa saya tetap sama:
“Ya Allah, kalau dia jodoh aku, tolong dekatkan. Tolong kekalkan. Kalau dia bukan untuk aku, tolong jauhkan. Tolong jauhkan dari sekarang.”
Pertama kali saya setuju sepenuh hati untuk telan pahit realiti,
redha saja apa yang jadi, buang jauh-jauh cinta buta tuli,
dan kali itu Allah dengar. Allah dengar.
Seorang demi seorang Allah jauhkan.
Lama-lama tinggal Harry Nazrul Anuar,
teman baik yang entah dari mana-mana, melekat, tanpa dia sebut apa yang lelaki-lelaki lain sebut,
namun saya faham melalui tindak-tanduknya.

Saya harap inilah dia. Inilah satunya jodoh yang Allah tulis waktu Ibu lahirkan saya ke dunia hampir 25 tahun yang lalu. Saya harap inilah lelaki yang Allah pilih untuk mengimamkan solat saya, untuk membacakan doa bila rezeki dihidang depan mata, untuk dijadikan salah satu jalan saya ke syurga, untuk diisi rompong rusuknya dengan saya.

Saya harap inilah dia.